MeMoRy…

Standard

Mengulik-ulik foto v beberapa tahun yang lalu, mata v tertumbuk pada satu foto yang punya kenangan yang menurut v sangat-sangat berharga.

V dan Farah bertemu pada saat v masih ngekost di Pogung Kidul. Awalnya, v dan farah tidak pernah bertegur sapa, karena farah orangnya cuek, v juga. Farah kamarnya di lantai dua yang ramai, sementara v di lantai tiga yang sepi. Farah kuliah di Arsitektur UGM’02. Suatu kali, v pulang jam 4 pagi, abis ngedugem ama teman2, mindik-mindik biar ga ketahuan ama anak2 kost karena v orangnya jaim banget, eh tiba2 kamar farah terbuka, dan dia keluar dari kamar sambil teriak “hayooooo kk dari mana? kk ngedugem ya?” v yang kaget, pias n ketawa ngakak, karena ga nyangka bakal diteriakin kaya gitu.

Semenjak itu, v dan fay mulai bersahabat, kemana2 bareng, sampai-sampai saat fay bertanding taekwondo pun v ikut menemaninya, hubungan fay yang baik dengan kedua orang tua v plus fisiknya yang mirip bayu, menyebabkan fay sudah dianggap sebagai anak kedua oleh papa n mama v-dengan bayu tetap sebagai si bungsu. Tetapi, fay termasuk anak yang sensitif, hingga seringkali v harus hati2 kalo ngomong ama dia, diluar itu semua fay adalah orang yang sangat peduli dengan teman2nya.

Satu hari, v dan fay sepakat membeli seekor anak anjing, jenis pitbull, yang kemudian kami beri nama Becky. Karena kami masih ngekost, jadi untuk tidak mengganggu anak kost yang lain, v dan fay akhir ngontrak di sebuah rumah, bersama bayu n sahabat2nya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, v yang baru beberapa bulan kuliah di MM sedang sibuk banget dengan berbagai macam peer dan tugas presentasi. Tanggal 19 April 2005-hari ulang tahun v-v baru pulang dari kampus, dengan kondisi badan yang hampir remuk, kurang istirahat. Farah sedang mengerjakan gambar, dan dalam kondisi sakit. V udah punya rencana merayakan ulang tahun bersama bayu, fay, n anak2 lainnya, tapi karena acaranya malam hari, jadi v bisa manfaatin waktu yang sedikit itu untuk tidur sebentar. Ternyata fay marah, merasa tidak diperhatikan, padahal sedang sakit. Fay beranggapan bahwa v ga mau nganterin dia ke dokter. V yang ga ngerti situasi, pada saat bangun tidur, dengan cueknya ngajakin fay ikut makan bareng untuk ngerayain ultah v. Fay menolak, dan semenjak itu hubungan v dan fay memburuk. Ditambah lagi campur tangan teman fay-amel-membuat hubungan v dan fay, bayu dan fay, menjadi buruk. V dan fay jadi tidak pernah bertegur sapa, situasi rumah menjadi tidak nyaman. V, fay, bayu, n teman2 bayu hanya bisa bertahan dengan kondisi tersebut selama satu tahun. Kemudian fay pindah, teman2 bayu pindah, sementara v n bayu tetap bertahan dirumah tersebut.

Selama setahun itu, v berusaha memperbaiki hubungan persahabatan v yang rusak. Orang tua fay, orang tua v pun menasihati kami, tapi semuanya tidak mendatangkan hasil. Nilai v jeblok karena kondisi rumah yang tidak nyaman. Mungkin juga hal ini berpengaruh dengan fay, tapi v ga tau, i’ve no idea.

Seorang dosen psikolog, pernah mengomentari, v diibaratkan sebagai sebuah jendela yang terbuka lebar. Apapun yang v rasakan dengan cepat bisa dibaca dari ekspresi v. Mungkin benar v adalah jendela yang terbuka lebar, tapi ada satu celah kecil di hati v yang akan tetap tertutup karena v tidak mau lagi mengalami hal yang menyedihkan seperti yang telah v alami sebelumnya, lebih baik v tidak terlalu akrab dengan orang lain, agar tidak mengalami sedihnya kehilangan seorang sahabat lagi. Enough!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s